Pedagang-Hewan-Kurban-di-Tanah-Abang-Kecewa-Ada-Larangan-Berjualan-di-Trotoar.jpg

Pedagang Hewan Kurban di Tanah Abang Kecewa Ada Larangan Berjualan di Trotoar

JAKARTA – Pedagang hewan kurban di Jalan KH Mas Mansyur meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta supaya saling menghargai. Mereka kecewa ada rencana penertiban.

Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang dikenal sebagai pusat penjualan (pasar) hewan kurban sejak beberapa puluh tahun. Pedagang hewan kurban di tempat itu sudah turun temurun.

Dery, salah satu pedagang hewan kurban, mengaku penertiban dilakukan supaya DKI Jakarta rapi. Tetapi harus memperhatikan pedagang yang sudah puluhan tahun berjualan di tempat itu.

“Kami (pedagang dan pemerintah,-red) harus saling menghargai. Tahun lalu juga ada (penertiban,-red). Sempat bentrok, lalu, pemerintah memberikan izin,” ujar Dery ditemui di JL KH Mas Mansyur, Selasa (22/9/2015).

Dia mengaku meneruskan usaha dari kakeknya. Sewaktu kecil, dia hanya ikut berjualan. Setelah dewasa, dia menjadi bos pedagang hewan kurban.

Berdagang hewan seperti kambing dan sapi merupakan usaha sehari-hari. Dia menjual kambing beraneka jenis. Kambing dijual seharga Rp 2 juta sampai Rp 4 juta.

Selain kambing, dia menjual domba Australia. Domba berbulu putih tersebut dijual seharga Rp 3 juta 500 ribu. Hewan kurban yang dijual dirawat sendiri selama kurun waktu satu tahun.

“Alhamdulillah. Pada tahun ini, saya sudah menjual 42 ekor kambing. Saya merawat sendiri di tempat tinggal di daerah Kelapa Dua,” kata dia.

Dia menyiasati penertiban dengan cara menyiapkan kandang berukuran 10X12 meter untuk menaruh hewan kurban.

Jadi apabila terjadi penertiban, maka hewan kurban tersebut akan dimasukkan ke kandang. Kandang itu berada di tempat parkir sebuah ruko di Jalan KH Mas Mansyur.

Setelah Hari Raya Idul Adha, dia mengaku akan kembali ke rutinitas sehari-hari menjual kambing untuk keperluan Aqiqah dan pesanan acara, seperti malam pergantian tahun.

Dibaca 35 kali